Hidup dan lemparlah dadu..

Posted by B Pratama Thursday, May 29, 2014 0 comments
Hidup dan lemparlah dadu.. 


Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di 
sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas 
jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang 
lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu 
sudah ada disana. Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang 
kelontong.

Ketika itu mobil kami berhentidi depan kiosnya dan wanita itu datang 
menghampiri membawa apa yang biasanya kami inginkan, majalah Ananda 
dan Bobo buat saya serta majalah Tempo dan Intisari untuk ayah. 
Demikian terjadi sepekan sekali sepulang sekolah selamabertahun- 
tahun hingga tiba saatnya sayaberanjak remaja dan berganti selera 
baca, saya tak lagi menemui wanita itu. 

Sekonyong-konyong di senja itu, tatapan mata saya ke luar angkot yang 
tengah membawa saya pulang ke rumah, menyapu kios itu dan wanita yang 
sama di dalamnya. Bedanya, kali ini ia tak lagi menjajakan koran dan 
majalah. Hanya rokok, minuman cola, air mineral, dansejumlah barang 
lain. Apakah itu semacam kemunduran perniagaan, saya tak tahu persis. 
 Yang tampak jelas bagi sel-sel kelabu saya adalah kenyataan bahwa ia, 
untuk menafkahi hidupnya, masih saja duduk di tempat yang sama, 
setelah lewat bertahun-tahun. 

Suatu sore lain dalam sebuah gerbong kereta yang saya tumpangi, saya 
menatap puluhan gubuk dan rumah petak di sepanjang lintasan rel yang 
menuju stasiun Senen. Benak saya digelayuti iba dan juga pertanyaan. 
Sejumlah gerobak mie ayam melintas di jendela dengan cepat. Apa yang 
begitu menarik dari kota ini, begitu pertanyaan saya, sehingga mereka 
sanggup bertahan dalam kepapaannya di tengah gemuruh Jakarta yang 
keras. Apakah itu nasib? Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran 
yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh 
Jakarta tetap bertahan di sana? 

Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan 
saya yang berumur lima tahunpunya petunjuknya. 
Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah 
beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih 
surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, 
kemudian berkata, "Ayo jalan!Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om 
bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai- 
selesai." 
Saya tersadar. 

Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang 
bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus 
dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih 
tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya. 
Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papanUlar-Tangga. Ada 
papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Suka atau 
tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus 
melangkah. Atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap 
orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar 
manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori 
peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak 
kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukahTangga, Allah- 
lah yang mengatur. Dan disitulah nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas 
melempar dadu. 

Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka 
bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. 
Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan 
sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu. 
Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. 
Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan 
permainannya. 
Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa 
di antara sekian lemparan, kauakan menemukan Tangga. Beda antara 
orang yang optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si 
Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan. 

("Sang Dadu" oleh Edy Pratolo - Suaramerdeka) 
***************
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Hidup dan lemparlah dadu..
Ditulis oleh B Pratama
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://menebardanmenuai.blogspot.com/2014/05/hidup-dan-lemparlah-dadu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Template by Cara Membuat Email | Copyright of The Heaven - The Underworld.